Majalah Duit

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Bisnis Yuk! Bisnis Yuk! Sop Konro, Dari Tenda Biru di Lapangan Karebosi

Sop Konro, Dari Tenda Biru di Lapangan Karebosi

E-mail Cetak PDF
Sop konro sering disebut-sebut sebagai makanan tradisional Makassar, padahal tidak. Sop iga sapi ini baru ada tahun 60an, berbeda dengan sejumlah makanan tradisional Makasar yang tidak diketahui asal-muasalnya. Sebut saja pak Hanafing, ia adalah pembuatnya yang kini sukses dengan Sop Korno Karebosinya.   


                                      
Dari sekian banyak menu makanan asal Makassr, sop konro merupakan salah satu menu makanan yang lumayan populer di       Indonesia, di samping coto dan sate Makassar yang memang sudah melegenda. Meski tak sepopuler kedua jenis makanan itu, sop konro selalu menjadi pilihan pavorit para petualang kuliner yang berkunjung ke ibu kota Sulawesi Selatan itu.

Dari namanya saja sop konro, sudah pasti makanan ini berjenis sop (sup). Namun sup yang satu ini berbeda daripada umumnya. Sop  konro tidak bening dan tidak didominasi sayuran, seperti wortel, kol, buncis dan semacamnya. Kuah sup itupun agak kental berwana coklat ke hitam-hitaman. Isinya hanya daging iga sapi yang masih menyatu dengan tulangnya.

Bila Anda belum pernah melihatnya, sop konro tidak begitu menarik, berbeda dengan sup bening yang isinya dari berbagai jenis  sayuran segar berwarna warni hingga mencolok mata dan menggoda selera. Uniknya, meski tampilannya kurang mempesona, orang-orang yang berhadapan langsung dengan sup asal Makassar itu, sering kali tergoda. Menurut kabar yang beredar di kalangan penggemarnya, daya tarik sop konro ada pada aromanya yang  bisa membutakan mata orang-orang yang melihatnya.
                                                  
Mengenai statusnya, orang dari luar Makassar, biasanya menyamakan sup ini dengan berbagai jenis makanan tradisional khas  daerah setempat, seperti sate dan coto Makassar. Ini adalah kekeliruan besar. “Sop konro ini bukan makanan ‘daerah’. Kalau coto dan sate Makassar, memang benar, karena keduanya warisan dari nenek moyang yang keberadaannya sudah berabad-abad, hingga pembuatnya pun tidak diketahui lagi,” jelas Nirwana, (33), pemilik kedai sop konro.
   
Menurutnya, sop konro baru ada di tahun 1960an, sebelumnya sup ini tidak pernah ada. Orang yang pertama kali membuat dan mempopulerkannya adalah pak Hanafing, (73), yang merupakan ayah kandung Nirwana sendiri. Menurut Nirwana. yang membuat sop konro ini cepat dikenal, karena cita rasanya yang memang cocok dengan lidah orang-orang Indonesia, khususnya masyarakat Makassar.
   
Di masa awalnya, tidak ada kedai penjual sop konro selain kedai pak Hanafing. Belakangan, baru bermunculan kedai-kedai lain. Selain itu, sop konro seolah menjadi menumakanan khas Makassar. “Kalau soal bumbu, dari awal, ayah memang tidak pelit. Itu sebabnya, sop konro menjadi menu masakan yang umum di Makassar. Itu juga yang membuatnya seperti masakan khas daerah, karena sudah menjadi makanan rumahan yang biasa diolah ibu-ibu rumah tangga,” papar Nirwana.

Kedai Pak Hanafing
                                                
Bicara soal kedai penjualnya, Anda pasti bertanya-tanya. Kedai manakah yang dimiliki pak Hanafing? Karena jumlah kedai penjualnya sendiri sudah begitu banyak. Nah, kalau Anda ingin tahu, nama kedainya Sop Konro Karebosi. Ini adalah kedai sop konro milik pak Hanaping. Saat ini, sudah ada tujuh kedai yang tersebar di beberapa tempat, di Makassar, Kendari, Jakarta dan Surabaya. Kini, seluruh  kedai itu dikelola anak-anak dan keluarga besarnya.
    
Menu andalannya sop konro dan konro bakar. Selain itu, Sop Konro Karebosi menawarkan sejumlah menu lain. Di antaranya, coto Makassar dan sop saudara. Di samping itu, ada juga beberapa minuman khas Makassar. Sebut saja, es pallu butung dan es pisang ijo. Harga yang ditawarkannya beragam, mulai dari Rp10 ribu sampai dengan Rp17 ribu.
    
Umumnya, Sop Konro Karebosi menempati sebuah bangunan layaknya rumah makan sederhana. Namun, beberapa di antaranya sudah ada yang menggunakan konsep semi resto. “Segmentasinya lebih ke konsumen dari kalangan menengah ke bawah. Fasilitasnya tidak terlalu mewah, tapi dibuat layak. Tempatnya bersih dan layanan yang baik,” jelas Nirwana. Meskipun demikian, pelanggan Sop Konro Karebosi tidak sebatas kalangan itu saja. Orang-orang dari kalangan atas pun banyak yang berkunjung ke tempat itu.
    
Jumlah rata-rata pengunjungnya bisa mencapai 300 orang per hari, sedangkan akhir pekan, bisa dua kali lipat dari biasanya. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pengelolanya harus belanja 200-250 kg daging sapi per hari, untuk per kedainya. Menurut data yang kami peroleh dari berbagai media, masing-masing kedai, bisa mengantongi omzet hingga di atas Rp10 juta per hari.

                                                 
Tenda Biru                                      

Bila dilihat dari besaran omzetnya, tentu saja, Sop Konro Karebosi bukanlah bisnis kacangan. Tapi, tahukah Anda bahwa di masa awalnya, sop konro adalah menu makanan yang dijual di sebuah tenda dekat lapangan Karebosi Makassar. Tenda itupun bukan yang biasa digunakan untuk bazaar maupun pameran, tapi tenda terpal yang biasa digunakan untuk warung pinggiran jalan, dengan alat penunjang dari kayu atau bambu.
   
Fasilitas kedai itupun terbilang alakadarnya. Sekedar dilengkapi gerobak berikut sejumlah meja dan bangku panjang berbahan kayu. Pak Hanafing memulai bisnis ini pada tahun 1962. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai guru nomaden. Ia mengajar dari satu pulau ke pulau lain, yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Makassar.
                                                    
Usaha membuka kedai sop konro ini, salah satunya karena alasan ekonomi. Gaji yang didapat dari profesi sebagai guru SD tidak mencukupi untuk menghidupi keluarganya. Namun yang membuatnya makin mantap, waktu itu Pak Hanafing dikucilkan teman-teman seprofesinya karena pilihan politiknya  yang berbeda.
                                                    
Akhirnya, pak Hanaping bantir setir dan memilih jalan sebagai seorang wirausahawan  dengan menjajaki bisnis sop konro. Usaha tersebut terinspirasi dari usaha Sop Saudara yang dimiliki paman sang istri tercinta. Sop Saudara dimodifikasi rasa dan isinya. Setelah berganti-ganti akhirnya iga (konro) dijadikan pilihan akhir.
                                                    
Waktu itu, uang tabungan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari upah mengajar, dijadikan modal. Saat memulai usahanya, bahu-membahu dengan sang istri, Siti Bayani.Muaranya pak Hanafing berhasil mendirikan warung tenda di pinggir lapangan Karebosi Makassar. Adapun menu utamanya, ya, sop konro. “Itulah mengapa usahanya diberi nama Sop Konro Karebosi, artinya sop konro yang dijual di sekitar lapangan Karebosi,” ungkap Nirwana.
   
Berkat kerja keras dan kemahirannya mengolah iga sapi, Sop Konro Karebosi mengalami kemajuan pesat dan mulai populer pada 1970-an. Waktu itu, kedai pak Hanafing banyak dikunjungi orang. Sejak saat itu, sop konronya tak sekedar populer di Makassar. Kabar kelezatannya sudah sampai hingga ke luar kota Makassar.
    
Pada tahun 1977 Sop Konro Karebosi “naik kelas” menjadi rumah makan. Pak Hanafing tak lagi berjualan di bawah tenda biru. Waktu itu, hasil usahanya sudah cukup untuk membeli ruko di pusat kota Makassar. Lebih dari itu, pak Hanafing sendiri sudah bisa naik haji, membeli kendaraan, membeli rumah dan mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga Sarjana.
    
Di tahun 1990an ia hijrah ke Jakarta untuk merintis cabang barunya di kawasan Kelapa Gading dan Sunter. Pengelolaan Sop Konro Karebosi yang ada di Makassar dipegang Ilham, putra ke 9 pak Hanafing. “Kebetulan, saya sedang kuliah di Jakarta. Ayah saya ajak ke Jakarta untuk membuka cabang dan hasilnya menggembirakan,” Jelas Nirwana.
    
Sukses menjadi pengusaha kuliner di metropolitan Jakarta ternyata belum mampu memuaskan hasrat mantan guru SD ini. Ia pun merambah Surabaya, Jawa Timur. Alhasil, kini ia mempunyai tujuh cabang Sop Konro Karebosi. Jumlah pegawai yang dihidupi pun cukup banyak. “Per restoran ada 20 orang,” hitungnya.
    
Menurut Nirwana, meskipun jumlah kedai penjual sop konro sudah sangat banyak, tetap saja Sop Korno Karebosi selalu menjadi pilihan orang-orang yang ingin menyantap sop iga sapi ini. Dari cita rasanya, Sop Konro Karebosi tetap unggul dibanding yang lainnya. “Meskipun resepnya sudah menyebar, itu hanya resep dasarnya saja. Untuk resep rahasianya, hanya kami yang tahu. Itu juga yang membuat kedai ini tetap jadi pilihan utama,” tegasnya. (Ruby Babullah Afsa, Majalah DUIT! No. 09/IV/September 2009)
 
Comments (1)
1 Rabu, 06 Januari 2010 12:59
anang
saya penggemar konro terutama konro bakar.......
apakah ada peluang kerjasama???. berapa modalnya kira2 ya

Add your comment

Your name:
Your email:
Comment:
Iklan Horizontal

Berita terkait

Tidak ada berita terkait