Orang Terkaya Indonesia Tahun 2018

Orang Terkaya Indonesia Tahun 2018

Dua saudara pemilik Djarum Group Robert Hartono, 77, dan Michael Hartono, 78, berada di peringkat pertama di antara 150 Orang Terkaya Indonesia oleh majalah Globe Asia, Juni 2018. Kekayaan itu mencapai US $ 21 miliar, meningkat dari tahun lalu pada US $ 18. milyar.

Robert dan Michael adalah pengusaha, yang dikenal dengan rokok dan industri perbankan mereka. Seperti dikutip dari Globe Asia, pendapatan dan laba dari bisnis perbankan mereka meningkat hingga 30 persen tahun lalu.

Wilayah mereka di Bank Central Asia juga meningkat dari Rp18.000 menjadi Rp22.000. “Bisnis rokok, pondasi awal dari kekayaan mereka, juga sehat,” tulis Globe Asia.

Akibatnya, mereka adalah pemegang saham terbesar di BCA. Melalui perusahaan Farindo Holding Ltd., mereka menguasai 51 persen saham.

Selain itu, keduanya memiliki 65.000 hektar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat sejak 2008. Mereka juga mengendalikan sejumlah properti, termasuk Grand Indonesia dan perusahaan elektronik.

Majalah Forbes pada Rabu, 29 November 2017, juga bernama Robert dan Michael sebagai orang terkaya di Indonesia.

Orang terkaya Indonesia ke-2 dan ke-3

Mengikuti Robert dan Michael adalah Eka Tjipta Widjaja. Pria berusia 94 tahun itu adalah bos Grup Sinar Mas dengan kekayaan mencapai US $ 13,9 miliar.

Posisi ketiga 150 Indonesia Terkaya oleh Globe Asia diambil oleh Antoni Salim, 69 tahun. Presiden First Pacifik, juga dikenal sebagai pemilik Indofood Group, memiliki kekayaan US $ 11,5 miliar.

Jumlah orang kaya di Indonesia sendiri mengalami peningkatan. Ada banyak faktor yang membuat pertambahan orang-orang kaya di Indonesia, salah satu hal penting adalah dengan berkembanganya teknologi.

Saat ini, para pemilik start up yang telah sukses seperti Gojek dan Tokopedia membuat kedua pemilik perusahaan rintisan tersebut masuk mejadi salah satu jajaran orang terkaya di Indonesia saat ini. Teknologi saat ini bisa mendorong pertumbuhan bisnis sehingga dapat mengangkat pemilik sehingga bisa bersaing dengan pengusaha-pengusaha bidang mainstream lainnya.